Meskipun kita dapat menghitung mundur hari menuju Ramadan, kita tidak dapat memastikan apa yang akan terjadi dalam rentang waktu tersebut. Apakah kita masih akan bertemu Ramadan tahun ini atau tidak? Apakah kita masih bisa shalat Taraweh bersama dengan keluarga atau tidak? Apakah kita masih diberi kesempatan shalat Idul Fitri atau justru dishalatkan? Semua itu adalah rahasia Allah yang tidak dapat kita prediksi.
Maka dari itu, jangan menunggu datangnya Ramadan bila ingin ‘berhijrah’ atau bertaubat atau beramal sholeh. Selagi ada kesempatan berbuat baik di depan mata lakukanlah; Jangan ditunda apalagi diabaikan sebagaimana pesan Al Qur’an dan Hadits Rasulullah ﷺ :
“….. Maka, berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”(QS. Al-Baqarah, 2: 148)
Bersegeralah melakukan amalan sholih sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan di sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya (imannya) karena (mencari) sedikit dari keuntungan dunia.(HR. Muslim no. 118).
Bersemangatlah dalam menggapai hal yang bermanfaat untukmu. (HR. Muslim no. 2664)
Pemahaman terbalik dari ayat dan hadis di atas bahwa Islam membenci orang-orang yang suka menunda-nunda kebaikan yang bisa dilakukannya. Jangan menunggu hal-hal yang tidak pasti, tetapi lakukanlah sesuatu yang pasti, Menunggu hal-hal yang tidak pasti hanya akan membuat kita kehilangan kesempatan berharga dan merugi serugi-ruginya baik di dunia maupun akhirat. Nabi ﷺ telah mengingatkan akan hal tersebut dengan sabdanya:
Perhatikan (manfaatkan) lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu. (HR. Al-Hakim)
Hadis tersebut memberi gambaran masa depan seseorang akan ditentukan dan dipengaruhi saat sehat, muda, waktu luang dan rezeki yang lapang.
Kenalilah Allah di saat senang (lapang), niscaya Allah akan mengenalmu di saat susah. (HR. Tirmidzi)
Penutup
Ada nasehat orang tua kita: “Jika waktu muda dan sehat sudah malas, jangan harap waktu tua dan sakit-sakitan bisa giat. Jika saat ada kelapangan rezeki susah bersedekah, apalagi saat jatuh miskin. Jika saat ada waktu luang saja enggan belajar agama, jangan harap saat sibuk bisa menyempatkan diri untuk menuntut ilmu.”
Wallahu’alam. Semoga bermanfaat!
Penulis: Ustadz Irwan Hernanda – Pimpinan Ranting Muhammadiyah Abadijaya Kota Depok













