Opini

Polemik Program Makan Siang Gratis

×

Polemik Program Makan Siang Gratis

Sebarkan artikel ini

Penulis : Mayva Eka Wulandary (Mahasiswa semester 4 Prodi Komunikasi Digital dan Media Sekolah Vokasi IPB)

Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang banyak untuk diselesaikan oleh jajaran pemerintahannya. Banyak sekali isu-isu yang sejak dulu masih belum dapat diselesaikan oleh para petinggi-petinggi negara. Isu-isu tersebutpun, bukan isu sederhana yang dapat diabaikan karena isu tersebutlah yang dapat membawa kemajuan bagi negara ini.

Pertanyaan seputar kesejahteraan rakyat menjadi sorotan utama mendekati pengumuman hasil pemilu oleh KPU 20 Maret 2024 mendatang. Masyarakat mulai bertanya-tanya dan mulai menagih janji dari paslon 02 yang saat ini unggul dalam Pemilu 2024. Salah satu janji dari 7 janji Paslon 02 adalah program makan siang dan susu gratis.

Makan siang dan Susu Gratis

Makanan merupakan kebutuhan primer manusia yang harus terpenuhi demi keberlangsungan hidup seseorang. Pemberian makan siang gratis saat ini menjadi salah satu program yang sedang dibangga-banggakan untuk membawa negara ini menjadi negara yang gizinya terpenuhi. Makan siang gratis yang difokuskan untuk anak-anak bertujuan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) dan mencegah stunting yang semakin meningkat.

Program makan siang dan susu gratis yang digadang-gadangkan ini akan memerlukan dana berkisar Rp120 triliun di tahun pertama dan jika dihitung secara keseluruhan dana yang dibutuhkan mencapai Rp450 triliun/tahun. Rencananya dana tersebut akan diambil dari APBN dan adanya indikasi bahwa dana BOS juga akan dilibatkan dalam pemenuhan program makan siang gratis.
Dana yang cukup besar tersebut dapat menyebabkan indikasi peluang bagi para tikus-tikus berdasi dan dijadikan ladang korupsi. Dalam anggarannya, setiap anak dianggarkan Rp15.000 per harinya untuk jatah makan siang. Namun, hal tersebut bisa saja semakin berkurang jika sampai ke bawah sehingga menyebabkan makanan tersebut tidak sesuai kriteria dan tidak dapat memenuhi gizi para siswa. Hal tersebut tentu saja akan bertentangan dengan visi misi dari program ini.

Untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya jika memang program ini akan dilaksanakan, laksanakanlah secara bertahap di daerah yang kerawanan pangannya masih tinggi.
Program makan siang gratis memang memberikan beberapa keuntungan, diantaranya dapat memenuhi kebutuhan primer khususnya anak-anak di sekolah, seperti gizi, nutrisi, dan energi. Hal tersebut dapat membantu anak-anak mendapatkan energi yang cukup untuk berkonsentrasi penuh sehingga lebih fokus selama masa pembelajaran. Seharusnya program ini juga dapat membantu masyarakat di kalangan ekonomi rendah untuk tetap mendapat standar gizi yang baik dan perlahan meningkatkan garis kesetaraan sosial karena tidak ada perbedaan makanan ketika berada di lingkungan sekolah.

Pemberian makan siang gratis rencananya akan dibarengin dengan pemberian susu gratis yang dapat menyempurnakan gizi anak-anak. Program ini seharusnya akan semakin menarik jika pemerintah menggunakan bahan baku yang berasal dari dalam negeri sehingga tidak harus
melakukan import. Penggunaan bahan baku dalam negeri selain dapat menyejahterakan gizi anak anak juga dapat menyejahterakan para petani, pelaku usaha, atau UMKM lokal yang bergerak di bidang makanan dan minuman.

Makanan Gratis Akankah Menimbulkan Masalah Baru?

Pemberian makanan dan susu gratis dapat menjadi solusi untuk membuat gizi yang baik dan berpengaruh pada perkembangan fisik maupun mental yang berpengaruh pada kemampuan anak-anak untuk belajar. Untuk mencapai kesejahteraan dan keberlanjutan jangka panjang, program ini perlu dikaji lebih dalam lagi, mulai dari anggaran yang nantinya akan dikeluarkan, pihak-pihak mana yang akan terlibat, dan hal lainnya yang diperlukan dalam menjalankan program tersebut. Tentunya, jika program gratis ini dilakukan akan ada beberapa resiko yang diterima rakyat salah satunya dengan iuran pajak menjadi naik, memangkas subsidi BBM, dan adanya indikasi naiknya harga bahan pokok lain serta menggangu belanja kebutuhan-kebutuhan negara di luar untuk makan siang gratis. Resiko tersebut tentunya tidak mudah untuk diterima di kalangan masyarakat, pasti akan terjadi pro dan kontra karena dapat menimbulkan masalah baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *