Dunia Islam

Kuliah Umum di UI, Profesor Palestina Ajak Indonesia Bangkit Lawan Penjajahan Intelektual

×

Kuliah Umum di UI, Profesor Palestina Ajak Indonesia Bangkit Lawan Penjajahan Intelektual

Sebarkan artikel ini
Prof. Dr. Abd al-Fattah El-Awaisi dalam kuliah umum “Beyond 1948” di Universitas Indonesia. (Tangkapan layar/YouTube Universitas Indonesia)
Prof. Dr. Abd al-Fattah El-Awaisi dalam kuliah umum “Beyond 1948” di Universitas Indonesia. (Tangkapan layar/YouTube Universitas Indonesia)

Dunia Islam, Jabarterkini.com — Akademisi asal Palestina, Prof. Dr. Abd al-Fattah El-Awaisi, mengingatkan bahwa perjuangan membebaskan Palestina tidak cukup hanya dengan diplomasi atau perlawanan fisik, tetapi juga dengan membangun kekuatan ilmu dan kesadaran berpikir umat.


Pesan itu disampaikannya saat hadir sebagai pembicara utama dalam kuliah umum bertajuk “Beyond 1948: Reclaiming the Palestinian Intellectual Legacy & Confronting the Intellectual Nakba” di Universitas Indonesia (UI), Senin (20/10), yang digelar oleh UI Palestine Center dan UI Students for Justice in Palestine (UISJP).

Dalam forum yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Universitas Indonesia tersebut, Prof. El-Awaisi menilai dunia Muslim tengah menghadapi bentuk penjajahan baru yang jauh lebih halus yakni penjajahan pikiran.


“Penjajahan pikiran lebih berbahaya daripada penjajahan tanah,” ujarnya. Ia menegaskan, umat Islam saat ini banyak bergantung pada konsep dan narasi yang dibuat oleh kekuatan kolonial Barat, sehingga kehilangan arah dalam memahami sejarah dan identitasnya sendiri.

Profesor yang juga anggota Fellow of the Royal Historical Society (UK) itu menjelaskan bahwa Nakba—yang selama ini dipahami sebagai tragedi politik 1948—sebenarnya bermula lebih awal, sejak runtuhnya kesadaran ilmiah dan politik Palestina pada masa pendudukan Inggris tahun 1917.
“Musuh tidak hanya mengambil tanah kami, tapi juga merebut ilmu kami,” katanya.

El-Awaisi menyoroti lemahnya kontribusi riset dari universitas-universitas Muslim terhadap isu Palestina. Ia bahkan menyebut penelitian akademik tentang Palestina di dunia Islam masih “hampir nol”, sementara kampus-kampus Barat terus memproduksi ribuan publikasi yang memperkuat narasi Zionis.

Situasi serupa, ujarnya, juga terlihat di Indonesia. “Negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, tetapi belum memiliki satu mata kuliah pun khusus membahas Palestina. Itu sangat mengkhawatirkan,” ucapnya. Menurutnya, ketidakhadiran kajian Palestina di dunia akademik Indonesia merupakan bagian dari perbudakan intelektual yang harus segera diputus.

Dalam paparannya, El-Awaisi juga menyebut konflik di Gaza bukanlah perang, melainkan bentuk genosida yang didukung oleh Amerika Serikat dan Inggris, dengan Israel sebagai alat pelaksana. Berdasarkan riset arsip Inggris selama lebih dari 30 tahun, ia menyimpulkan bahwa Israel bukanlah negara yang lahir secara alami, melainkan proyek kolonial Barat yang dibangun untuk menguasai kawasan Timur Tengah.

Mengenai gagasan Two State Solution atau solusi dua negara, ia menegaskan bahwa konsep tersebut hanyalah mitos politik yang diciptakan sejak tahun 1937 untuk mengelola konflik tanpa menyelesaikannya. “Ini strategi kolonial untuk menunda kemerdekaan Palestina,” tegasnya.

Di akhir kuliahnya, Prof. El-Awaisi mengajak Indonesia menjadi motor kebangkitan pemikiran dunia Muslim. Ia menilai pengalaman panjang bangsa Indonesia melawan penjajahan menjadikannya contoh nyata bagaimana ilmu dan kesadaran bisa menjadi kekuatan pembebasan.
“Saya percaya Palestina akan merdeka. Dan saya yakin, generasi kitalah yang akan menyaksikan hari itu,” ujarnya di hadapan ratusan mahasiswa. (red/NR-RJ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *