DaerahEkonomi & BisnisJawa Barat

Lokakarya Pengembangan Kurikulum Program Sarjana Terapan : Program Studi Teknologi Produksi Dan Pengembangan Masyarakat Pertanian (PPP) : Lulusan Yang Adaptif, Kreatif Dan Inisiati Darat Dan Lautan Kami Taklukan

×

Lokakarya Pengembangan Kurikulum Program Sarjana Terapan : Program Studi Teknologi Produksi Dan Pengembangan Masyarakat Pertanian (PPP) : Lulusan Yang Adaptif, Kreatif Dan Inisiati Darat Dan Lautan Kami Taklukan

Sebarkan artikel ini

BOGOR, JABARTERKINI.COM

Program Studi Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian (PS PPP) Sekolah Vokasi IPB menyelenggarakan lokakarya K2020 sistem blok sarjana terapan di IPB International Convention Center, Botani Square, Kota Bogor, pada hari Sabtu 23 Juni 2024. Kegiatan ini dilatarbelakangi pada respons IPB dalam mengantisipasi kebutuhan bangsa akan sumberdaya manusia (SDM) terdidik dan pembelajar yang siap menghadapi revolusi industri 4.0 dengan segala disrupsi yang terjadi di dalamnya. Untuk itu, IPB menetapkan kurikulum baru (K2020) multistrata yang bertujuan untuk menghasilkan lulusan unggul yang memiliki pola pikir tumbuh dan berjarak pandang (growth mindset), integritas dan karakter yang tangguh, skillset baru, dan kualitas pembelajar lincah (agile learner) yang bisa beradaptasi dengan cepatnya perubahan. Minggu (23/06/2024).

Transformasi K2020 ini ternyata selaras dengan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang diluncurkan oleh Kemdikbudristek pada tahun 2020 yang bukan hanya memudahkan IPB berintegrasi dengan kebijakan MBKM, namun sekaligus memvalidasi K2020 sebagai kurikulum yang on the track dengan kebijakan pendidikan nasional. Dengan demikian diperlukan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan cermat mulai dari pra lokakarya, lokakarya, hingga evaluasi pasca lokakarya dengan tujuan tersusunnya Kurikulum K2020 Sistem Blok yang unggul dan berdaya saing.

Peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah Pimpinan Sekolah Vokasi IPB, Ketua PS PPP Sekolah Vokasi IPB, Sekretaris PS PPP Sekolah Vokasi IPB, Dosen Program Studi Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian, dan Mahasiswa Program Studi Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian. Adapun stakeholder yang turut diundang sebagai narasumber dalam lokakarya ini antara lain Anwar Muhammad Foundation (AMF), International Association for Public Participation (IAPP), Balai Penyuluhan Pertanian Ciawi, Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Agrospora, Politeknik Pembangunan Pertanian Medan, dan Alumni dari PS PPP.
Dr. Nurliana Harahap SP, MSi.

Wakil Direktur I Politeknik Pembangunan Pertanian Medan mengatakan bahwa, Pengembangan kurikulum Program Sarjana Terapan Program Studi Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian (PPP) perlu memperhatikan kebutuhan Dunia Usaha, Dunia Industri dan Dunia Kerja. Untuk itu perlu memperhatikan keterkaitan mata kuliah yang disampaikan sesuai dengan profil lulusan. Hal lain yang perlu digarisbawahi adalah penguatan skill komunikasi efektif lulusan, serta keterampilan untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang mungkin dihadapi perusahaan, Ujarnya.

Ditambahkan oleh Bapak Muhammad Casroni, S.ST sebagai Kepala Balai Penyuluhan Ciawi menyatakan bahwa, Penyuluh saat ini dituntut untuk menguasai berbagai bidang. Petani yang didampingi telah memiliki pengalaman yang beragam sedangkan lulusan Vokasi cenderung baru mendapatkan pengalaman didunia pertanian. Penguatan keterampilan komunikasi dan pemetaan wilayah menjadi salah satu kunci dalam membangun relasi yang kuat dengan pemangku kepentingan. Lulusan PPP juga harus mampu membaca situasi sosial masyarakat yang didampingi agar peran sebagai penyuluh semakin kuat, Tutur Muhammad Casroni.

Dedi Mulyadi – P4S dan sebagai alumni angkatan pertama PS PPP menyepakati bahwa Resimen Mahasiswa menjadi salah satu modal kuat dan pembeda antara PS PPP dengan prodi lainnya, serta memberikan bekal yang cukup bagi para calon penyuluh untuk menghadapi segala tantangan di lapangan. PS PPP juga perlu memperkuat ilmu tentang tanah. Penyuluh perlu menguasai ilmu tanah sebagai dasar, karena saat ini belum ada penyuluhan yang berfokus pada tanah. PS PPP juga dapat memperkuat eksplorasi pemanfaatan pupuk hayati untuk dibekalkan pada para calon penyuluh, agar tanah pertanian di Indonesia tidak menjadi ‘tanah yang mati’. Penyuluh saat ini dikerdilkan oleh sistem, sehingga sumber daya penyuluh lebih banyak dibebani tugas administratif sehingga tidak memiliki kebebasan untuk melakukan tugas penyuluhannya.

Dari Kalangan Praktisi/pengguna lulusan, Ibu Wiwin dari IAPP memberikan masukan nantinya lulusan PS PPP mampu dalam hal how to enggangge stakeholder. Mahasiswa harus bisa berkomunikasi ke komunitas (pendampingan dan resolusi konflik misal). Selain kurikulum berbasis komunikasi, perlu juga adanya program sertifikasi public participation agar mahasiswa mempunyai ketrampilan how to communicate, create and responsible to communities. Senada dengan hal itu, Bapak Andri Muhammad dari AMF menyampaikan bahwa, Kebutuhan pendampingan komunitas terjebak antara industri dan minimnya keterampilan. Pengetahuan terkait pengetahuan perancangan usaha, agribisnis sangat dibutuhkan untuk petugas lapang. Pendampingan yang dibutuhkan perlu basis pengetahuan perancangan program yang relevan dengan karakteristik penerima manfaat. Mahasiswa harus dibekali juga dengan keterampilan marketing juga perlu diperkuat, agar hasil pendampingan dapat diproses hingga aspek hilirnya.

Cindy Oktaviani, AMd sebagai alumni merasa bahwa lulusan PS PPP memiliki karakteristik yang kuat, adaptif, kreatif dan inisiatif. Salah satu kegiatan ekstrakampus yang didapatkan saat berkuliah adalah Resimen Mahasiswa yang menempa karakter individu agar dapat bersaing secara mental serta memiliki jiwa kepemimpinan. Refi Wulaningsih yang juga sebagai alumni PPP yang saat ini menjadi penyuluh pertanian menggarisbawahi pentingnya kemampuan komunikasi bagi para lulusan. Keterampilan dalam perilaku berkomunikasi, ekspresi, gerak gerik, intonasi dan vokal serta penampilan dan keterkaitan dengan Pendidikan Orang Dewasa serta dinamika kelompok.

Kemampuan mendorong kemitraan juga menjadi salah satu hal krusial yang perlu dimiliki oleh lulusan. Misal keterampilan membuat MoU dengan jejaring yang lebih luas. Terakhir dari Syahrul Gunawan sebagai alumni PS PPP yang berkarir di Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Perkebunan menyatakan bahwa, Keterampilan untuk mengendalikan hama secara terpadu menjadi salah satu modal yang penting bagi calon lulusan penyuluh. Konteks keterpaduan menjadi kata kunci yang dapat diperkuat dan dikombinasikan dengan sensitivitas menangkap isu perubahan iklim. Keterampilan komunikasi juga menjadi hal yang sangat krusial dalam pengalaman kerja.

Harapannya, Hasil lokakarya ini akan memberikan masukan tersusunnya Kurikulum Sarjana Terapan yang sesuai dengan kebutuhan industri, peraturan yang berlaku di IPB, kebijakan pemerintah dan dapat menjamin agar lulusan program studi vokasi mampu mengembangkan berbagai pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai selama program pendidikan, yang pada akhirnya memberikan kontribusi dalam mendorong pertumbuhan industri dan ekonomi, untuk menciptakan kekayaan dan keluar dari kemiskinan baik bagi dirinya sendiri maupun secara keseluruhan bagi bangsa dan negara, Tutupnya. (Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *