Sumatera — Tidak semua perjalanan diawali dengan kepastian. Sebagian dimulai dari niat, doa, dan keberanian meninggalkan rumah, keluarga, serta rutinitas pekerjaan. Itulah yang dilakukan para relawan NERS Indonesia saat memulai misi kemanusiaan ke Sumatera pada awal Desember 2025.
Para relawan menyadari bahwa perjalanan ini akan panjang, melelahkan, dan penuh keterbatasan. Namun, tekad untuk membantu masyarakat terdampak bencana menguatkan langkah mereka untuk tetap berangkat.
Pada 5 Desember 2025, tim relawan NERS Indonesia tiba di Sumatera Barat. Di wilayah Palembayan dan Maninjau, Kabupaten Agam, mereka langsung melaksanakan berbagai program kemanusiaan, mulai dari layanan Post Operation Control, Mobile Clinic, pendistribusian alat kebersihan diri, penyaluran logistik sembako, hingga kegiatan trauma healing bagi masyarakat terdampak bencana.
Melalui layanan kesehatan yang dibuka, NERS Indonesia berhasil melayani banyak warga yang membutuhkan pengobatan dan pendampingan medis. Kehadiran para relawan menjadi harapan baru bagi masyarakat di tengah keterbatasan akses layanan pascabencana.
Namun, perjalanan belum berakhir. Setelah menyelesaikan tugas di Sumatera Barat, tim kembali mengemas perlengkapan dan melanjutkan perjalanan darat menuju Aceh. Jalan panjang, waktu istirahat yang terbatas, serta kondisi fisik yang mulai terkuras tak menyurutkan semangat mereka.
Pada 12 Desember 2025, tim relawan NERS Indonesia akhirnya tiba di Kabupaten Aceh Tamiang melalui Kota Medan. Di sana, wajah-wajah lelah para relawan disambut tatapan penuh harap dari masyarakat yang terdampak bencana.
Di Aceh Tamiang dan Kota Langsa, NERS Indonesia kembali menjalankan berbagai program kemanusiaan, di antaranya layanan Mobile Clinic, Post Operation Control, distribusi sembako dan alat kebersihan diri, serta kegiatan trauma healing khususnya bagi anak-anak. Para relawan berupaya menghadirkan rasa aman dan dukungan psikososial bagi warga yang masih berjuang memulihkan diri dari dampak bencana.
“Terima kasih sudah datang,” ujar seorang warga dengan suara bergetar. Kalimat sederhana tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi para relawan. Mereka menyadari bahwa yang dibutuhkan masyarakat bukan hanya bantuan materi, tetapi juga kehadiran dan kepedulian di tengah duka.
Bagi Putra, Sogi Gelar Tumbara, Rama Gimana, Rifqi Jayandana, dan Helmi Ahmad Mubarok, misi ini bukan sekadar catatan laporan kegiatan. Lebih dari itu, misi kemanusiaan ini menjadi pelajaran tentang arti hadir tanpa banyak janji, serta melayani dengan tulus dan sepenuh hati.
Saat langkah mereka meninggalkan Aceh, para relawan memahami satu hal: sebagian hati mereka akan selalu tertinggal di sana. Di antara reruntuhan, doa-doa, dan senyum warga yang perlahan kembali tumbuh. Di situlah makna menjadi relawan menemukan bentuknya yang paling utuh.













