Daerah

Groundbreaking PSEL Kayumanis Dijadwalkan November, Pemkot Percepat Persiapan Infrastruktur

×

Groundbreaking PSEL Kayumanis Dijadwalkan November, Pemkot Percepat Persiapan Infrastruktur

Sebarkan artikel ini

BOGOR – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menargetkan groundbreaking Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) Kayumanis, Kecamatan Tanah Sareal, pada November 2026. Saat ini berbagai persiapan terus dilakukan, salah satunya dengan mempercepat pembangunan akses jalan menuju lokasi proyek.

PSEL Kayumanis merupakan salah satu dari dua proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik yang tengah dipersiapkan bersama PSEL Galuga di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Pemerintah menargetkan PSEL Galuga mulai beroperasi pada awal 2028, sedangkan PSEL Kayumanis ditargetkan mulai beroperasi pada 2029.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, bersama jajaran meninjau langsung lokasi PSEL Kayumanis pada Selasa (21/7/2026). Dalam peninjauan tersebut, sejumlah alat berat terlihat tengah mengerjakan pembangunan akses jalan, termasuk pemasangan bronjong di sekitar aliran Sungai Angke.

Dedie mengatakan pembangunan PSEL Kayumanis merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintah daerah.

“Dikawal Menko Pangan, Menteri Lingkungan Hidup, Mendagri, PLN, ESDM, Danantara, termasuk Gubernur Jawa Barat dan Pemkot Bogor,” ujar Dedie.

Menurutnya, proyek PSEL Kayumanis menjadi gelombang kedua setelah pembangunan PSEL di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Galuga.

“Groundbreaking PSEL Galuga direncanakan awal Agustus, sedangkan PSEL Kayumanis atau PSEL Bogor Raya ditargetkan pada November,” katanya.

Dedie mengungkapkan pemenang lelang proyek PSEL Kayumanis telah ditetapkan. Saat ini Pemkot Bogor memprioritaskan pembangunan akses jalan sepanjang sekitar 1,65 kilometer dari ujung Jalan Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) menuju lokasi proyek.

Hasil peninjauan menunjukkan masih terdapat beberapa titik yang membutuhkan perbaikan dan penguatan konstruksi. Karena itu ia meminta agar akses jalan dibuat lebih baik dan lebih lurus sehingga memudahkan mobilitas kendaraan operasional.

“Kalau memang perlu ada pembebasan lahan sedikit, mudah-mudahan bisa segera diselesaikan agar akses lebih baik,” ucapnya.

Tahap awal pembangunan dilakukan melalui anggaran rutin untuk pekerjaan pemadatan jalan. Selanjutnya pemerintah akan melanjutkan dengan betonisasi melalui mekanisme penunjukan langsung (PL). Seluruh pekerjaan akses jalan ditargetkan selesai sebelum groundbreaking pada November 2026.

Pemkot Bogor juga memastikan pembangunan PSEL Kayumanis telah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai Wilayah Pelayanan (WP) C untuk program Waste to Energy.

Selain fasilitas utama PSEL, di kawasan tersebut juga akan dibangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) skala kota serta fasilitas pengolahan residu pembakaran menjadi Fly Ash and Bottom Ash (FABA) Plant. Residu hasil pembakaran nantinya akan dimanfaatkan sebagai bahan baku berbagai produk konstruksi seperti paving block, kanstin, batako hingga campuran semen sehingga memiliki nilai ekonomi.

PSEL Kayumanis dirancang memiliki kapasitas pengolahan sekitar 1.000 ton sampah per hari. Sementara PSEL Galuga diproyeksikan mampu mengolah hingga 1.500 ton sampah setiap hari. Dedie mengatakan keberadaan dua fasilitas tersebut diharapkan mampu menjadi solusi atas persoalan sampah di Kota Bogor sekaligus membuka peluang kerja sama dengan daerah sekitar seperti Kabupaten Bogor dan Kota Depok.

“Paradigma pengelolaan sampah sekarang berubah. Sampah bukan lagi dibuang, tetapi diolah menjadi listrik tanpa menimbulkan polusi serta menghasilkan nilai ekonomi,” ujarnya.

Pembangunan PSEL juga menjadi bagian dari program nasional untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus mempercepat pengembangan energi baru terbarukan. Saat ini kebutuhan BBM nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 700 ribu barel per hari sehingga sisanya masih harus dipenuhi melalui impor.

Pemerintah pusat menargetkan pembangunan 32 unit PSEL di berbagai daerah. Setiap fasilitas diproyeksikan mampu mengolah 1.000 hingga 1.500 ton sampah per hari dengan potensi menghasilkan listrik sekitar 34 megawatt (MW). Teknologi pembakaran modern yang diterapkan pada PSEL diklaim mampu menekan emisi jauh lebih rendah dibanding pembangkit berbahan bakar fosil.

Di Kota Bogor sendiri, produksi sampah harian terus meningkat. Saat ini armada pengangkut hanya mampu mengangkut sekitar 700 hingga 800 ton sampah per hari ke tempat pemrosesan akhir. Sementara sekitar 300 ton lainnya berpotensi dibakar secara ilegal, dibuang ke sungai, atau menumpuk di lahan kosong. Karena itu sistem PSEL diharapkan terintegrasi dengan pengelolaan TPS 3R serta budaya pemilahan sampah sejak dari sumbernya.

Sebagai perbandingan, Kota Tokyo, Jepang telah mengoperasikan 22 unit PSEL yang didukung oleh kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R). Sementara itu, tumpukan sampah lama di TPA akan ditangani melalui teknologi pirolisis, controlled landfill, dan gasifikasi, sedangkan sampah baru yang masuk setiap hari akan diarahkan seluruhnya ke PSEL. Selain menghasilkan listrik, residu hasil pengolahan juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku road base, paving block, batako hingga campuran semen.

Di tempat terpisah, Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor, Rino Indira Gusniawan, memastikan kebutuhan air operasional PSEL tidak akan mengganggu pelayanan air bersih kepada masyarakat. Ia menjelaskan setiap satu ton sampah membutuhkan sekitar satu meter kubik air untuk proses pengolahan. Dengan kapasitas PSEL mencapai 1.000 hingga 1.500 ton per hari, kebutuhan air diperkirakan berada pada kisaran 1.000 hingga 1.500 meter kubik setiap hari.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Perumda Tirta Pakuan menyiapkan tiga skenario, yakni memanfaatkan jaringan distribusi eksisting dengan kuota khusus, menerapkan sistem sirkulasi air industri, serta membangun intake dan instalasi pengolahan air (Water Treatment Plant/WTP) mandiri dari sumber sungai di sekitar lokasi.

“Kami harus memastikan kebutuhan air industri ini tidak mengganggu pasokan air bersih masyarakat. Kepastian suplai sangat penting karena jika boiler berhenti, biaya pemanasan ulang sangat besar,” ujar Rino.

Menurutnya, kehadiran PSEL juga berpotensi meningkatkan pendapatan perusahaan. Meski pelanggan industri saat ini hanya sekitar tiga persen dari total pelanggan, kontribusinya mencapai sekitar 25 persen terhadap pendapatan Perumda Tirta Pakuan.

“Tambahan pelanggan industri seperti PSEL akan memperkuat pendapatan perusahaan. Keuntungannya dapat digunakan untuk subsidi silang sehingga tarif pelanggan rumah tangga tetap terjaga,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *