Jabarterkini.com, BOGOR – Sejumlah mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar Aksi Kamisan Solidaritas untuk Petani Sukajaya di Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA), Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Kamis (13/8/2026).
Aksi tersebut digelar sebagai bentuk solidaritas terhadap petani Sukajaya yang tengah menghadapi persoalan agraria dengan PT Prima Mustika Candra (PMC). Dalam kegiatan itu, mahasiswa menggelar lapak baca, diskusi, hingga open donasi.
Presiden Mahasiswa UMBARA, Apip, mengatakan mahasiswa memilih untuk terus mengawal persoalan tersebut karena menilai konflik yang terjadi tidak semata-mata berkaitan dengan persoalan lahan, tetapi juga menyangkut ruang hidup masyarakat.
“Ini perjuangan tentang kemanusiaan. Ketika Pemkab Bogor atau pihak terkait belum bisa memberikan solusi tuntas, kami sepakat dengan kawan-kawan untuk terus mengawal persoalan ini sampai tuntas,” kata Apip.
Menurut dia, pemerintah daerah perlu turun langsung melihat kondisi di lapangan dan mencari penyelesaian yang tidak merugikan masyarakat.
“Konflik agraria, perampasan ruang hidup, itu merupakan salah satu bukti nyata bahwa kita perlu mempertanyakan kemerdekaan. Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, kenyataannya masih ada masyarakat yang mengalami persoalan ruang hidup,” ujarnya.
Apip meminta Pemkab Bogor beserta perangkat terkait segera mengambil langkah konkret dalam menyelesaikan persoalan tersebut.
“Harapan untuk Pemerintah Kabupaten Bogor dan perangkatnya harus bisa mengawal secepat-cepatnya karena menyangkut kemanusiaan yang adil dan beradab,” tuturnya.
Mahasiswa juga menyoroti adanya dugaan tindakan represif terhadap masyarakat dalam proses penyelesaian konflik. Mereka meminta aparat maupun perangkat pemerintahan di tingkat wilayah memberikan penjelasan terkait persoalan tersebut.
Namun, tudingan mengenai tindakan represif tersebut merupakan klaim dari massa aksi dan masih memerlukan konfirmasi dari pihak-pihak yang disebut.
Apip menegaskan mahasiswa tidak akan berhenti mengawal persoalan petani Sukajaya sampai ada penyelesaian yang dinilai memberikan keadilan bagi masyarakat.
“Kita akan mengawal kasus ini sampai tuntas, sampai keadilan ditegakkan seadil-adilnya,” tegasnya.
“Penyelesaian harus memberikan kepastian agar petani dapat kembali menjalankan aktivitasnya secara aman,” sambung Apip.
Selain menyampaikan aspirasi, Aksi Kamisan tersebut juga dijadikan ruang diskusi dan kajian mengenai persoalan agraria yang dihadapi masyarakat Sukajaya.
Menurut Apip, kegiatan tersebut sengaja dikemas tidak hanya dalam bentuk aksi massa, tetapi juga sebagai ruang bagi mahasiswa dan masyarakat untuk memahami persoalan secara lebih mendalam.
“Gerakan ini bukan hanya sebatas konsultasi, tetapi juga solidaritas dan upaya membantu keluarga yang terdampak,” katanya.
Open donasi turut dilakukan dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan kepada masyarakat yang disebut terdampak konflik agraria.
Mahasiswa juga menyatakan akan terus melakukan konsolidasi dengan kelompok masyarakat dan elemen lainnya untuk mengawal persoalan Sukajaya.
Tak hanya meminta Pemkab Bogor turun tangan, mahasiswa juga mendesak DPRD Kabupaten Bogor melakukan fungsi pengawasan dengan melihat langsung kondisi di lokasi konflik.
“Tak hanya Pemkab Bogor, kami juga meminta lembaga legislatif melakukan pengawasan dengan turun langsung ke lokasi konflik,” kata Apip.
Aksi Kamisan Solidaritas tersebut menjadi salah satu bentuk penyampaian aspirasi mahasiswa untuk mendorong pemerintah segera mencari solusi atas persoalan agraria di Sukajaya. Mahasiswa menyatakan akan terus mengawal proses penyelesaian hingga terdapat kepastian bagi masyarakat dan petani yang terdampak.













