Jika Anda terbiasa bangun malam dan merasakan keheningan serta kesyahduan bermunajat kepada Allah saat orang lain tidur, bersyukurlah. Namun, jika keheningan dan kesyahduan itu terganggu oleh suara pengeras suara masjid di bulan Ramadan nanti, bersabarlah.
“Dan sungguh, orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy-Syura, 42:43)
Perlu kita pahami bahwa Ramadan adalah bulan tarbiyah, bulan pendidikan bagi umat Islam di seluruh dunia, bukan hanya di lingkungan kita saja. Dalam bulan ini, Allah menunjukkan diri-Nya sebagai Rabbul ‘Aalamiin, yang mengatur alam semesta dan sangat menyayangi umat Islam, khususnya orang-orang beriman.
“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzab, 33:43)
Namun begitu, selama Ramadan, kita tak lepas dari ujian Allah dalam hal kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama muslim. Seharusnya, kita merasa bahagia melihat saudara-saudara muslim lainnya bangun untuk shalat Subuh berjamaah, merasakan segarnya udara pagi, dan mendapatkan siraman rohani. Jika kita masih merasa ‘jengkel’ dengan suara-suara ‘sahur-sahur’, mungkin kita masih punya sifat egois dan kita perlu lebih memahami dan menghargai budaya keagamaan di Indonesia. Bukankah selama sebelas bulan sebelumnya kita sudah merasakan nikmat bermunajat dengan Allah di keheningan malam?
Selama Ramadan adalah kesempatan bagi mereka yang belum terbiasa bangun malam untuk merasakan apa yang telah kita rasakan, meskipun mereka perlu dibangunkan terlebih dahulu oleh pengeras suara masjid. Mereka akan merasakan kebersamaan dalam shalat berjamaah dan keistimewaan lainnya selama bulan suci ini. Mereka akan menyadari bahwa udara segar di pagi hari bermanfaat bagi kesehatan, dan barisan shaf Subuh dapat meningkatkan ‘mood’ serta semangat berkarya.
“Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat dibanding shalat sendirian.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ramadan menekankan pentingnya kebersamaan dan semangat kolektif dalam menjalankan ibadah di tengah masyarakat yang beragam. Hanya satu bulan, tidak lebih. Kita akan menyaksikan umat Islam bersemangat bangun malam dan shalat Subuh berjamaah. Oleh karena itu, gangguan kecil selama Ramadan seharusnya bisa kita toleransi sebagai bentuk partisipasi dalam kebersamaan umat.
“Orang mukmin itu akrab dan bersatu. Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bersatu dan tidak akrab.” (HR. Ahmad, Ath-Thabarani dan Al Hakim).
Kendati demikian, ada sabda nabi ﷺ yang lain mengajak untuk saling mengerti dan menghargai.
”Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).
Sehubungan hal di atas, penulis-mewakili masyarakat- berharap kepada pengurus masjid agar memperhatikan pedoman Kementerian Agama dan Dewan Masjid Indonesia mengenai penggunaan pengeras suara di masjid, yakni mengatur waktu dan volume penggunaannya agar tidak mengganggu masyarakat sekitar, sehingga terjaga ketertiban dan kenyamanan bersama selama bulan Ramadan.
Semoga kita dapat menjalani bulan Ramadan kali ini dengan lebih ikhlas dan penuh rasa syukur, serta memperkuat ikatan kebersamaan antar sesama muslim.
Wallahu a’lam bish-shawab, semoga bermanfaat.
Penulis: Ustadz Irwan Hernanda – Pimpinan Ranting Muhammadiyah Abadijaya













