Lifestyle

Menggali Seni dan Keseharian: Klub Fotografi Menyatukan Hasrat di Ibu Kota

×

Menggali Seni dan Keseharian: Klub Fotografi Menyatukan Hasrat di Ibu Kota

Sebarkan artikel ini

Oleh Amirah Inas (Mahasiswi Komunikasi Digital dan Media SV IPB University)

 

Pekan akhir semester menjadi pekan yang dinanti banyak pelajar dan mahasiswa. Liburan semester ibarat sebuah lorong waktu untuk beristirahat.

Namun, tak semua pelajar diam begitu saja dan merelakan waktunya berlalu. Ada saja kegiatan atau kreativitas penunjang demi memanfaatkan kesempatan. Jalan-jalan, mencari kesibukan baru, atau mengeksplorasi talenta untuk penguatan disiplin keilmuan. Minimal mencari pengalaman, atau menyicil tugas dari kampus.

Umumnya, pekan akhir semester dimanfaatkan untuk perjalanan keliling kota. Salah satunya, ke Daerah Khusus Ibu kota (DKI) Jakarta, yang tak lama lagi status ibu kotanya ditanggalkan. Sebuah ibu kota baru kini sedang disiapkan di Kalimantan Timur (Kaltim) dengan sebutan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Sebagai kota megapolitan, Jakarta menjadi destinasi favorit selama liburan semester. Tidak hanya memiliki tempat wisata hiburan, Kota Jakarta menawarkan tempat wisata edukatif yang menarik untuk dikunjungi sambil belajar.

Keberadaan fasilitas transportasi yang lengkap memudahkan para pendatang untuk menjelajahi berbagai tempat menggunakan transportasi umum. Seperti perjalanan libur semester sebuah klub fotografer Sekolah Vokasi IPB University bernama “Obscura Photography Club”.

Klub yang beranggotakan 18 mahasiswa ini memilih target hunting dengan menjelajahi Kota Jakarta tepat di liburan semester awal tahun 2024. Mereka melakukan perjalanan menggunakan transportasi umum ke tiga tujuan di satu hari yang sama.

Tiga objek tersebut yakni Galeri Nasional, Monumen Nasional, dan Blok M. Perjalanan dimulai dengan titik kumpul di Stasiun Bogor. KRL Commuter Line menjadi transportasi pilihan. Sebagian memilih bergabung setelah kereta tiba di Stasiun Gondangdia.

Dari stasiun ini, lokasi Galeri Nasional tak terlalu jauh. Dengan menggunakan jasa aplikasi mobil online, target yang dituju Galeri Nasional tercapai. Di sana, mereka berkeliling mengamati dan menikmati pameran karya seni rupa tema ”Pascamasa”. yang tersedia selama satu jam sesuai waktu kunjungan.

Karya-karya tersebut tidak hanya berbentuk tiga dimensi, namun juga terdapat karya digital dua dimensi yang menarik perhatian. Bahkan, terdapat karya unik yang diilustrasikan pada suatu ruangan dengan keadaan lampu berkedip dan suara bising.

Saat menanyakan arti karya tersebut kepada petugas yang berjaga, salah seorang menjelaskan, “Arti karya ini seperti zaman sekarang, di mana kita menerima terlalu banyak informasi pada layar digital. Sampai-sampai otak kita pun bingung dengan banyak informasi tersebut yang membuat bising telinga dan otak kita.”

Selama satu jam pameran sepertinya tidak cukup untuk melakukan hunting semua karya di Galeri Nasional. Karenanya harus fokus pada satu karya dokumentasi, yakni mempelajari makna sebuah karya pada setiap seniman, belajar mengantre dan bersabar, serta menikmati ketenangan.

Seperti saat sedang menikmati sebuah karya, seorang pengunjung bernama Sasa dari Kota Tangerang, rela antre beberapa saat. Ia jauh-jauh mengunjungi Galeri Nasional karena Sasa menyukai hal-hal berbau seni. Dia memilih mengunjungi Galeri Nasional di hari libur bersama temannya.

Berakhirnya sesi kunjungan di Galeri Nasional, para anggota klub fotografi Obscura terlebih dulu menjalankan ibadah salat zuhur. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Monumen Nasional atau yang biasa disebut “Monas”. Mereka berjalan kaki kurang lebih 500 meter, melakukan hunting jalanan dan memperhatikan pemandangan lalu lintas ibu kota di siang hari.

Sesampainya di Monumen Nasional, mereka berjalan kaki sambil mengambil foto sekitar, baik lingkungan, bangunan, maupun human interest. Lalu, mereka makan siang bersama.

Banyak pengunjung yang berlibur mengunjungi Monas, baik pengunjung lokal maupun internasional. Mereka menganggap Kota Jakarta dengan berbagai tempat wisatanya yang populer, masih menjadi daya tarik bagi banyak pengunjung. Mereka dengan senang hati menjelajah walaupun datang dari wilayah yang jauh.

Sorenya, rombongan anggota klub fotografi Obscura melanjutkan perjalanan menuju Blok M, sebuah kawasan bisnis dan perbelanjaan untuk menikmati waktu bersantai untuk berkumpul, kulineran, atau berbelanja. Di sana, mereka melakukan hunting sederhana, berdiskusi tentang kegiatan hari itu, serta saling mencurahkan perasaan masing-masing. Lalu melaksanakan ibadah salat dan makan malam.

Setelah salat dan makan malam, mereka mengakhiri kegiatan dengan menaiki MRT Jakarta. Meskipun beberapa dari mereka, hari itu sudah cukup melelahkan dengan perjalanan panjang. Akan tetapi, semangat mereka tetap terjaga. Mereka tetap melakukan perjalanan dengan sesekali bercanda walaupun beberapa dari mereka tidak dapat tempat duduk dan harus berdiri bersama para pekerja yang baru pulang dari kantor. Selain itu, mereka tetap dapat menikmati pemandangan dari dalam KRL Commuter Line.

Setelah sampai di Stasiun Dukuh Atas, mereka melanjutkan perjalanan pulang menggunakan KRL Commuter Line menuju tempat pemberhentian masing-masing. Di sana mereka mengucapkan perpisahan sebagai penutup kegiatan hunting hari itu.

Dari perjalanan hunting ini, selain meningkatkan kemampuan fotografi, banyak yang dapat dipelajari dari hal yang sederhana. Setiap orang memiliki tujuan dan kepentingan masing-masing dalam hidup mereka. Di sini kita belajar menjadi pribadi yang lebih sabar di tengah kepadatan karakter manusia dan lalu lintas ibu kota.

Menikmati pemandangan aktivitas para pekerja di ibu kota yang bekerja keras memenuhi kebutuhan hidup. Akhirnya kita belajar menjadi lebih bersyukur atas segala yang telah didapatkan dalam hidup ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *